OneShoot

Short Story Completed 0

Start your content...

―――――――――――――――――――― Sebab ada pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban bukan karena jawabannya terlalu menyakitkan, melainkan karena orang yang seharusnya menjawabnya sudah tidak lagi merasa perlu untuk melakukannya. ―――――――――――――――――――― Aku selalu berpikir bahwa kehilangan seseorang harus dimulai dengan perpisahan. Dengan koper yang ditutup, pintu yang dibanting, atau punggung yang perlahan menjauh dari pandangan. Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang bisa menghilang jauh sebelum ia benar-benar pergi, meninggalkan begitu banyak hal yang masih utuh, tetapi tak lagi memiliki tempat untuk pulang. Dia, Kageyama Tobio―orang pertama yang membuatku mengerti hal itu. Ia bukan seseorang yang pandai memperlakukan orang lain dengan lembut. Mulutnya yang tajam, amarahnya mudah tersulut, dan kesabarannya terhadapku selalu berada di ambang batas. Kami menghabiskan sebagian besar waktu dengan bertengkar, saling menyalahkan ketika bola jatuh, atau berdebat tentang siapa di antara kami yang lebih bodoh. Namun, anehnya, aku tidak pernah benar-benar membenci semua itu. Sebab, di antara banyak orang yang pernah kutemui, Kageyama adalah satu-satunya orang yang selalu tahu di mana aku akan melompat, seberapa tinggi aku akan menggapai, dan ke arah mana aku akan berlari bahkan sebelum aku sendiri mengetahuinya. Ia tahu bagaimana cara memberiku bola. Dan aku, dengan segala kebodohanku, pernah percaya bahwa selama kami masih bermain bersama, ia tidak akan pernah membiarkanku jatuh sendirian. ――――― Sore itu, hujan turun begitu deras di halaman sekolah. Aku menemukannya di dalam gedung olahraga, terlihat ia duduk di lantai dengan punggung bersandar pada tiang net. Sebuah bola tergeletak di antara kedua kakinya. Tidak ada siapa pun selain kami. Latihan telah usai sejak satu jam lalu, tetapi Kageyama masih berada di sana, memandangi lapangan kosong dengan tatapan yang sulit kuartikan. “Kageyama!” teriakku keras. Seolah paham Ia menoleh sekilas. “Apa?” Aku berlari menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya tanpa meminta izin. “Kau tahu? Tadi aku melihat video pertandingan tim nasional. Aku berpikir, suatu hari nanti, kita pasti bisa bermain di lapangan sebesar itu.” Ujar ku antusias. “Kalau kau terus melompat tanpa memperhatikan arah bola, sampai tua pun kau tidak akan bisa.” Jawabnya seraya melirikku. “Hei!..” Aku memukul lengannya. Ia menghindar sambil mendengus, dan aku tertawa puas karena akhirnya berhasil membuatnya kesal. Seharusnya, sore itu menjadi sore biasa. Sore yang akan kami lupakan setelah beberapa hari berlalu, sebagaimana sore-sore lain yang dipenuhi pertengkaran tidak penting. Namun, ketika tawaku mereda, Kageyama tiba-tiba berkata, “Hinata, kau harus belajar bermain tanpa aku.” Aku menoleh. “Hah?” “Jangan hanya mengandalkanku untuk menerima umpan.” Sambungnya kemudian. Aku mengerutkan kening. “Memangnya kenapa? Kau sendiri yang selalu bilang kalau aku harus melompat saat kau mengumpan kan?” Tanyaku dengan penuh keyakinan. Kulihat ia memalingkan pandanganya. “Itu berbeda.” “Apanya yang berbeda?” jawabku meminta pertimbangan, Ia terdiam cukup lama. Kemudian, dengan suara yang jauh lebih pelan daripada biasanya, ia berkata, “Tidak selamanya aku bisa berada di sana.” Aku tidak mengerti maksudnya. Atau mungkin aku mengerti, tetapi sengaja berpura-pura tidak ingin mendengarnya. “Ya, memang. Nanti kita juga punya urusan masing-masing. Tapi kita tetap akan bermain bersama, kan?” lirihku. Kageyama tidak menjawab. Aku tertawa kecil, mencoba mengabaikan sesuatu yang mendadak terasa dingin di dalam dadaku. “Kita sudah berjanji, ingat? Kau akan menjadi setter terbaik, dan aku akan menjadi orang yang selalu bisa menerima umpannya. Kita akan terus bermain sampai semua orang tahu nama kita.” Ia menunduk, memutar bola di antara kedua telapak tangannya. “Kalau suatu hari aku tidak bisa mengumpan untukmu lagi, kau akan bagaimana?” Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana. Namun, aku membencinya. Aku membenci cara ia mengucapkannya seolah-olah kepergiannya adalah sesuatu yang sudah ia terima, sementara aku bahkan belum sempat mempersiapkan diri untuk membayangkannya. “Kalau begitu, aku akan mencari setter lain.” Aku mengucapkannya dengan sengaja, berharap ia akan marah. Berharap ia akan membentakku, menyebutku bodoh, lalu berkata bahwa tidak ada setter lain yang bisa mengumpan kepadaku sebaik dirinya. Namun, Kageyama hanya mengangguk. “Bagus.” Hanya itu. Satu kata yang menghancurkan sesuatu di dalam diriku tanpa suara. Aku menatap wajahnya, menunggu ia menarik kembali perkataannya. Menunggu ia menunjukkan sedikit saja tanda bahwa gagasan tentang aku bermain dengan orang lain ternyata mengganggunya. Tetapi ia tidak melakukannya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa selama ini aku mungkin hanya seseorang yang kebetulan cocok dengan umpannya. Seseorang yang akan mudah digantikan ketika waktunya tiba. Aku bangkit, mengambil tas, lalu berjalan menuju pintu. “Kalau begitu, terserah kau saja, Kageyama.” Aku tidak menoleh ketika mengucapkannya. Sebab aku takut, jika melihat wajahnya sekali lagi, aku akan menangis di hadapan orang yang bahkan tidak berusaha menahanku untuk pergi. ――――― Dua minggu kemudian, aku mengetahui bahwa Kageyama akan meninggalkan kota ini untuk mengikuti program pelatihan jangka panjang. Aku mengetahuinya dari orang lain. Bukan darinya. Saat mendengar kabar itu, aku sedang berada di kantin, mengunyah roti yang mendadak terasa seperti kertas di dalam mulutku. Suara teman-teman di sekelilingku perlahan menjauh, menyisakan satu kalimat yang terus berulang di kepalaku. Kageyama akan pergi. Aku mencari-carinya sepanjang hari. Di kelas, di ruang olahraga, di tempat kami biasa membeli minuman setelah latihan. Aku bahkan berlari sampai ke gerbang sekolah, berharap menemukan sosoknya di antara murid-murid yang pulang. Aku menemukannya menjelang sore, terlihat ia sedang memasukkan bola ke dalam keranjang penyimpanan. “Kau mau pergi?” Tanyaku. Tangannya berhenti. Ia tidak terlihat terkejut melihatku. Seolah-olah ia sudah tahu bahwa cepat atau lambat aku akan datang untuk menanyakan hal itu. “Ya.” Jawabnya singkat. “Kapan?” Sambungku kemudian. “Bulan depan.” Aku menelan ludah. “Kenapa tidak memberitahuku?” teriakku kesal, bagaimana bisa ia menyembunyikan hal ini dariku. “Aku belum sempat.” Jawabnya datar. Aku tertawa kecil. Belum sempat. Kami telah menghabiskan ribuan jam bersama. Aku tahu bagaimana ia menyukai susunan bola di dalam keranjang, tahu minuman yang selalu dibelinya, tahu kapan ia sedang marah dan kapan ia hanya berpura-pura tidak peduli. Aku bahkan tahu bahwa ia akan mengernyitkan dahi setiap kali pukulanku meleset sedikit saja. Namun, ternyata, aku tidak cukup dekat untuk mengetahui bahwa ia sedang mempersiapkan kepergiannya. “Kapan kau berencana memberitahuku?” tanyaku. “Sehari sebelum berangkat? Atau setelah kau sudah berada di sana?” sindirku ketus. “Hinata, jangan mulai.” “Jangan mulai apa?” tegurku kemudian “Kita tidak perlu membuat masalah dari hal ini.” Aku terdiam. Dari hal ini. Baginya, kepergian itu hanyalah sebuah langkah menuju masa depan. Sesuatu yang harus dilakukan, sesuatu yang tidak perlu diperdebatkan. Sementara bagiku, ia sedang membawa pergi sebagian besar hal yang membuat hari-hariku terasa berarti. “Kau pernah bilang kita akan bermain bersama sampai semua orang tahu nama kita.” Lirihku pelan. Terlihat ia menjawab dengan santai, “Aku ingat.” “Lalu kenapa sekarang kau pergi?” Sambungku. “Karena aku juga punya mimpi, Hinata!” jawabnya keras. Bentakannya menggema di dalam gedung olahraga. Aku terperanjat. Kageyama menarik napas panjang, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak bisa terus berada di tempat yang sama hanya karena kau belum siap ditinggalkan.” Kalimat itu membuatku terdiam begitu lama hingga aku bisa mendengar suara hujan yang mulai turun di luar gedung. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak pernah memintanya mengorbankan mimpinya. Aku ingin mengatakan bahwa aku hanya berharap ia cukup menghargai persahabatan kami untuk memberitahuku lebih awal. Namun, yang keluar dari mulutku justru pertanyaan yang jauh lebih menyedihkan. “Jadi, selama ini aku yang menghalangimu?” Wajahnya berubah. “Hinata, bukan itu maksudku.” “Tidak apa-apa.” Aku menggeleng, berusaha tersenyum. “Tidak apa-apa, Kageyama. Aku mengerti.” Padahal aku tidak mengerti apa-apa. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa begitu dekat hingga mampu membaca setiap gerakanku di lapangan, tetapi begitu jauh hingga tidak tahu bahwa kepergiannya akan menghancurkanku. Aku tidak mengerti bagaimana orang yang selalu menyuruhku untuk terus berlari sekarang justru menjadi orang yang paling ingin kuhentikan. Dan aku tidak mengerti mengapa, dari sekian banyak orang di dunia ini, aku harus belajar kehilangan dari satu-satunya orang yang selama ini membuatku percaya bahwa aku tidak sendirian. ――――― Hari keberangkatannya tiba pada pagi yang mendung. Aku datang ke stasiun dengan membawa sesuatu di dalam tas―sebuah gantungan kunci berbentuk bola voli yang kubeli beberapa hari sebelumnya. Warnanya biru dan kuning, sedikit jelek, dan harganya tidak seberapa. Aku tidak tahu mengapa aku membelinya. Mungkin karena aku ingin memberinya sesuatu yang dapat mengingatkannya pada kami. Mungkin karena aku masih terlalu kekanak-kanakan untuk menerima kenyataan bahwa kenangan tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan. Kageyama sudah menungguku di dekat peron. “Kau datang juga,” katanya. Aku mendengus. “Memangnya kau pikir aku tidak akan datang?” selidikku. “Biasanya kau terlambat.” “Diamlah.” Ia tersenyum tipis. Senyum yang begitu biasa, begitu akrab, hingga aku hampir lupa bahwa beberapa menit lagi, aku mungkin tidak akan melihatnya untuk waktu yang sangat lama. Aku mengeluarkan gantungan kunci dari tas dan menyerahkannya kepadanya. “Ini.” Kageyama memandang benda itu. “Apa-apaan ini?” “Hadiah, bodoh. Kalau tidak mau, kembalikan.” Ia mengambilnya dari tanganku. “Jelek sekali.” Aku tertawa, meskipun tenggorokanku terasa sakit. “Ya sudah, buang saja.” Kageyama memasukkan gantungan kunci itu ke dalam saku jaketnya. “Tidak.” Aku terdiam. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak berjanji akan menyimpannya selamanya. Tidak berkata bahwa ia akan merindukanku. Ia hanya berdiri di sana, memegang pegangan tasnya, sementara pengumuman keberangkatan mulai terdengar. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Aku ingin mengingat semuanya. Bentuk alisnya. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Tatapan matanya yang selalu membuatku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi lebih baik. Aku ingin menghafal wajah itu karena aku takut suatu hari nanti aku akan terbangun dan tidak lagi mampu mengingatnya dengan jelas. “Kageyama.” Panggilku. “Apa?” jawabnya kemudian. “Kalau nanti kau sudah menjadi pemain hebat, jangan lupakan aku, ya?” Ia mengerutkan dahi. “Pertanyaan bodoh apa itu?” “Aku serius.” Ia menatapku beberapa saat, lalu menghela napas. “Aku tidak mungkin melupakan orang sebodoh dirimu.” Aku tertawa. Kemudian aku menangis. Aku membenci diriku sendiri karena menangis tepat di hadapannya, tetapi aku sudah tidak sanggup berpura-pura. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan, dan aku buru-buru mengusapnya dengan lengan baju. “Maaf,” bisikku. “Aku cuma... aku cuma belum terbiasa.” Kageyama tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, aku pikir ia akan memelukku. Atau setidaknya menepuk kepalaku seperti yang kadang ia lakukan setelah latihan yang melelahkan. Namun, ia hanya berdiri diam. Lalu, ia berkata, “Hinata, kau harus berhenti menganggap semua orang akan selalu berada di sampingmu.” Aku mengangkat wajah. “Apa?” “Kau tidak bisa terus bergantung pada orang lain. Kau harus bisa berdiri sendiri.” Aku mengangguk perlahan. Aku tahu ia benar. Aku tahu suatu hari nanti aku harus belajar bermain tanpa dirinya. Aku tahu hidup tidak akan berhenti hanya karena ia pergi. Namun, mengetahui sesuatu tidak membuatnya lebih mudah untuk diterima. “Kalau begitu,” kataku, mencoba tersenyum sekali lagi, “setidaknya kali ini, biarkan aku menjadi orang yang paling sedih karena kau pergi.” Kageyama terdiam. Dan aku tidak pernah tahu apakah ia memahami maksud perkataanku. Sebab setelah itu, keretanya tiba. Ia mengangkat tasnya, menoleh kepadaku untuk terakhir kali, lalu berkata, “Jangan berhenti melompat, Hinata.” Aku mengangguk. “Jangan berhenti mengumpan, Kageyama.” Ia tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan masuk. Aku berdiri di peron sampai kereta itu mulai bergerak. Aku melambaikan tangan, tersenyum selebar yang kubisa, seolah-olah aku sedang mengantarkan seorang sahabat menuju sesuatu yang membahagiakan. Aku tidak ingin ia melihatku menangis. Aku tidak ingin menjadi alasan baginya untuk menoleh ke belakang. Jadi, aku tetap melambaikan tangan bahkan ketika kereta itu sudah terlalu jauh untuk melihatku. Bahkan ketika tidak ada lagi wajah yang bisa kulihat dari balik jendela. Bahkan ketika aku menyadari bahwa tanganku masih terangkat, meskipun orang yang kulambaikan sudah tidak ada. ――――― Sejak hari itu, aku tetap bermain voli. Aku berlatih lebih keras. Aku belajar menerima umpan dari orang lain. Aku berusaha memahami gerakan setter baru, menyesuaikan langkahku, dan memperbaiki setiap kekurangan yang dahulu selalu diteriakkan Kageyama tepat di depan wajahku. Aku berhasil. Aku sungguh berhasil. Orang-orang mulai mengenalku sebagai pemain yang cepat, pemain yang tidak mudah menyerah, pemain yang selalu melompat seolah-olah tidak ada batas di antara dirinya dan langit. Namun, tidak seorang pun tahu bahwa setiap kali aku berhasil melakukan serangan yang sempurna, ada satu bagian kecil dalam diriku yang masih menunggu suara seseorang berkata bahwa pukulanku bagus, atau bahwa aku akhirnya melakukan sesuatu dengan benar. Aku masih ingin mendengarnya dari Kageyama. Hanya darinya. Beberapa bulan setelah kepergiannya, aku mengirimkan sebuah pesan. [Hei, Kageyama. Aku berhasil melakukan serangan baru hari ini. Kalau kau ada di sini, pasti kau akan bilang aku terlambat melompat] Aku menunggu balasan sepanjang malam. Tidak ada. Keesokan harinya, aku mengirimkan foto lapangan tempat kami biasa berlatih. Tempatnya masih sama. Net-nya juga masih sama. Hanya saja, sekarang tidak ada yang memarahiku karena melakukan kesalahan. Pesanku dibaca. Tidak ada balasan. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ia sibuk. Bahwa ia sedang berlatih, bahwa perbedaan waktu membuatnya sulit membalas, bahwa mungkin ia akan menjawab nanti ketika semuanya sudah lebih tenang. Aku mengulang alasan-alasan itu berkali-kali, sampai akhirnya aku sendiri hampir mempercayainya. Lalu, pada suatu malam, aku melihat unggahan pertandingan pertamanya di luar kota tersebut. Ia berdiri di tengah lapangan, mengenakan seragam baru. Di belakangnya, beberapa rekan setim tersenyum ke arah kamera. Di tangannya ada bola voli yang sangat kukenal bentuknya. Ia terlihat bahagia. Sungguh bahagia. Aku memperbesar foto itu, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak masuk akal untuk kucari. Gantungan kunci biru-kuning yang kuberikan kepadanya. Namun, benda itu tidak ada. Aku menatap foto itu lama sekali, lalu tertawa pelan. Tentu saja tidak ada. Untuk apa membawa benda sekecil itu ke dalam hidup yang begitu besar? Aku meletakkan ponsel dan menutup wajah dengan kedua tangan. Malam itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari. Kageyama tidak sedang menungguku. Ia sedang menjalani hidupnya. Dan mungkin, baginya, aku memang hanya bagian dari sebuah masa yang sudah selesai. ――――― Bertahun-tahun berlalu sebelum kami bertemu kembali. Aku melihatnya di sebuah pertandingan nasional. Ia berdiri di sisi lapangan dengan seragam yang berbeda, bahu yang lebih tegap, dan tatapan yang masih sama tajamnya seperti dahulu. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku nyaris tidak mendengar suara penonton. Kageyama―setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Aku berjalan menghampirinya ketika pertandingan usai. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan. Aku ingin bercerita tentang semua pertandingan yang telah kumenangkan, tentang semua kekalahan yang membuatku tumbuh, tentang malam-malam ketika aku hampir menyerah tetapi tetap berlatih karena mengingat perkataannya. Aku juga ingin bertanya mengapa ia tidak pernah membalas pesanku. Mengapa ia tidak pernah menanyakan kabarku. Mengapa begitu mudah baginya untuk melanjutkan hidup, sementara aku menghabiskan begitu banyak waktu berusaha membiasakan diri dengan ketidakhadirannya. Namun, ketika ia akhirnya menoleh dan melihatku, semua pertanyaan itu lenyap. “Hinata?” Aku tersenyum. “Kageyama.” Ia terlihat terkejut sesaat, kemudian tersenyum kecil. “Lama tidak bertemu.” Hanya itu yang dikatakannya. Lama tidak bertemu. Seolah-olah kami adalah dua orang yang dahulu hanya pernah bertukar sapa di lorong sekolah. Seolah-olah kami tidak pernah menghabiskan masa muda dengan saling mengejar di lapangan. Seolah-olah aku tidak pernah menangis di sebuah stasiun karena tidak ingin kehilangan orang yang berdiri di hadapanku sekarang. Aku menunduk, menyembunyikan gemetar di bibirku. “Ya. Lama sekali.” Kami berbicara sebentar tentang pertandingan, tentang tim, tentang hal-hal yang aman untuk dibicarakan oleh dua orang yang tidak lagi tahu bagaimana cara menyentuh masa lalu mereka. Kemudian, aku melihat seorang pemain menghampirinya. “Kageyama, ayo. Kita harus pergi.” Kageyama mengangguk, lalu kembali menatapku. “Sampai jumpa lagi, Hinata.” Aku mengangguk. “Tentu.” Ia berbalik. Dan sebelum sempat kupikirkan, aku memanggilnya. “Kageyama!” Ia menoleh. Aku ingin bertanya apakah ia masih menyimpan gantungan kunci itu. Aku ingin bertanya apakah ia pernah merindukanku. Aku ingin bertanya apakah ada satu malam saja ketika ia mengingatku dan merasa bahwa kepergiannya juga menyisakan luka di dalam dirinya. Namun, pada akhirnya, aku hanya tersenyum dan berkata, “Jaga dirimu baik-baik.” Kageyama mengangguk. “Kau juga, bodoh.” Lalu ia pergi. Aku berdiri di tempat yang sama, memperhatikannya menyusul rekan setimnya. Ia tertawa karena sesuatu yang dikatakan orang itu, dan untuk pertama kalinya, aku melihat dengan jelas bahwa ia bisa tertawa seperti itu tanpa kehadiranku. Aku seharusnya bahagia. Ia telah menemukan tempatnya. Ia telah mencapai mimpinya. Ia telah menjadi seseorang yang dahulu ingin sekali kami capai bersama-sama. Tetapi, entah mengapa, ada sesuatu di dalam diriku yang runtuh begitu saja. Sebab aku akhirnya mengerti bahwa aku tidak kehilangan Kageyama pada hari ia naik kereta. Aku kehilangan dirinya sedikit demi sedikit setiap kali ia memilih untuk tidak membalas pesanku, setiap kali hari-harinya berjalan tanpa namaku, dan setiap kali ia membuat kenangan baru yang tidak lagi melibatkanku. Hari itu, di tengah keramaian yang merayakan kemenangan, aku menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang masih berdiri di tempat kami berpisah. Bukan karena aku tidak pernah maju. Aku sudah maju. Aku sudah tumbuh. Aku sudah belajar berdiri di atas kakiku sendiri. Hanya saja, ada bagian dari diriku yang tidak pernah tahu bagaimana cara meninggalkan seseorang yang pernah membuatnya merasa bahwa dunia ini tidak terlalu besar untuk ditaklukkan. Malam itu, aku pulang dan membuka sebuah kotak tua di sudut lemari. Di dalamnya terdapat foto-foto Karasuno, seragam latihan yang sudah memudar, dan sebuah bola voli kecil yang dahulu pernah ditandatangani oleh seluruh anggota tim. Aku menemukan foto kami berdua di antara tumpukan itu. Kageyama berdiri dengan wajah kesal, sementara aku merangkul bahunya sambil tersenyum lebar. Di belakang foto, ada tulisan tanganku sendiri. Untuk Kageyama. Kita akan terus bermain bersama sampai tua. Jangan pernah meninggalkanku, ya, dasar raja bodoh. Aku tidak ingat kapan menuliskan kalimat itu. Aku juga tidak ingat kapan terakhir kali aku membacanya tanpa menangis. Aku duduk di lantai, memegang foto itu dengan kedua tangan. Untuk waktu yang lama, aku hanya memandang dua anak laki-laki di dalamnya. Mereka tampak begitu yakin bahwa dunia akan memberi mereka cukup waktu untuk memenuhi semua janji. Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, salah satu dari mereka akan menoleh ke belakang dan mendapati bahwa orang yang ingin ditemuinya sudah terlalu jauh untuk dipanggil pulang. Aku menyentuh wajah Kageyama di dalam foto dengan ujung jari. “Kau tahu, Kageyama?” Suaraku begitu pelan hingga nyaris tidak terdengar. “Aku sudah bisa bermain tanpa dirimu.” Aku tertawa kecil, mengusap air mata yang jatuh ke atas foto. “Aku sudah bisa menerima umpan dari orang lain. Aku sudah bisa membaca gerakan setter lain. Aku bahkan sudah bisa melakukan banyak hal yang dahulu selalu kau katakan tidak akan bisa kulakukan.” Aku menarik napas, tetapi dadaku terasa semakin sesak. “Aku sudah melakukan semua yang kau minta.” Air mataku jatuh lagi. “Tapi, kenapa kau tidak pernah bertanya apakah aku baik-baik saja?” Tidak ada jawaban. Hanya suara jam dinding dan malam yang terus bergerak tanpa peduli. Aku menunduk, memeluk foto itu erat-erat ke dada. “Aku tidak pernah ingin kau berhenti mengejar mimpimu, Kageyama. Aku tidak pernah ingin menjadi alasanmu untuk tinggal.” Aku terisak. “Aku cuma ingin, setelah semua yang kita lalui, aku masih menjadi seseorang yang ingin kau temui ketika kau berhasil.” Namun, bahkan setelah bertahun-tahun, aku masih belum tahu apakah aku pernah menjadi seseorang yang sepenting itu baginya. Mungkin ia pernah menyayangiku dengan caranya sendiri. Mungkin ia pernah menganggapku sebagai sahabat yang tidak tergantikan. Mungkin ada masa ketika ia juga takut kehilangan kebersamaan kami. Aku tidak tahu. Dan mungkin, aku tidak akan pernah tahu. Sebab ada pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban bukan karena jawabannya terlalu menyakitkan, melainkan karena orang yang seharusnya menjawabnya sudah tidak lagi merasa perlu untuk melakukannya. Malam semakin larut. Aku mengembalikan foto itu ke dalam kotak, tetapi tanganku berhenti ketika melihat gantungan kunci lain yang serupa dengan benda yang dahulu kuberikan kepada Kageyama. Aku membelinya untuk diriku sendiri pada hari yang sama, dengan harapan kami akan memiliki benda yang sama ketika harus berada di tempat berbeda. Gantungan kunciku masih ada. Masih kusimpan. Masih kubawa ke mana-mana. Sedangkan aku tidak tahu apakah miliknya masih berada di suatu tempat, atau sudah lama dibuang bersama barang-barang yang tidak lagi ia perlukan. Aku menggenggam benda itu, kemudian menangis tanpa suara. Barangkali, begitulah caraku mencintai persahabatan kami selama ini ―dengan terus menyimpan sesuatu yang bahkan tidak kuketahui apakah masih disimpan oleh orang lain. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak berusaha menghentikan air mataku. Aku membiarkannya jatuh untuk seorang anak laki-laki yang pernah berlari di sampingku, yang pernah meneriakiku dari seberang net, yang pernah membuatku percaya bahwa selama aku terus melompat, akan selalu ada seseorang yang mengirimkan bola tepat ke tempat yang kubutuhkan. Aku menangisi sahabat yang masih hidup. Seseorang yang mungkin sedang tertawa malam ini, tanpa tahu bahwa ada orang lain yang masih mengingat suara langkahnya di lorong sekolah. Seseorang yang mungkin tidak lagi mengingat janji kecil kami. Seseorang yang bisa kutemui lagi di dunia ini, tetapi tidak bisa lagi kupanggil pulang ke masa ketika kami masih menjadi bagian paling penting dalam hidup satu sama lain. Dan tahukah kau apa yang paling menyakitkan? Bukan kenyataan bahwa Kageyama pergi. Bukan pula kenyataan bahwa ia tidak pernah kembali menjadi sahabat yang dahulu kukenal. Melainkan kenyataan bahwa, jika suatu hari nanti ia benar-benar datang dan berdiri di hadapanku, aku mungkin akan tetap tersenyum, menyapanya seperti biasa, dan berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa. Aku akan menertawakan umpatan-umpatannya. Aku akan bertengkar dengannya tentang pertandingan. Aku akan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Sebab aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah hanya karena aku masih merindukan seseorang yang telah lama selesai dengan masa lalunya. Dan barangkali, itulah akhir paling menyedihkan dari sebuah persahabatan―ketika kau masih menganggap seseorang sebagai rumah, sementara bagi orang itu, kau hanyalah tempat yang pernah ia tinggali sebelum menemukan jalan menuju hidupnya sendiri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience