Series
4
"Cukup Farel, lepaskan" suara Ezran terdengar putus asa, teredam di balik napasnya yang memburu.
Kedua pergelangan tangannya sudah dikunci di atas kepala dengan satu genggaman erat dari Farel. Tidak ada celah untuk melawan, apalagi mendorong tubuh pria itu menjauh.
"Berhentilah menolak, Ezran. Aku tahu kau menyukainya", balas Farel rendah, dia sama sekali tidak memedulikan debaran dada Ezran yang bergemuruh panik sebelum kembali membungkam bibir pemuda itu dalam ciuman yang menuntut dan dalam.
Tiga hari yang lalu.
Hidup Ezran adalah sebuah garis lurus yang tenang.
Ia baru saja lulus SMA, memegang kendali penuh atas kamar tidurnya sendiri, dan menikmati hari-hari tanpa gangguan berarti. Namun, kedamaian itu hancur dalam waktu kurang dari satu jam ketika ayahnya pulang membawa seorang wanita paruh baya dan seorang anak lelaki tinggi berwajah dingin bernama Farel.
"Mulai hari ini, Farel akan tinggal bersama kita", ucap sang Ayah, menepuk bahu Farel yang berdiri kaku di ambang pintu.
Ezran menatap Farel sekilas, mendapati mata tajam pria itu menatapnya balik dengan sorot yang membuatnya tidak nyaman.
Sejak malam pertama di bawah atap yang sama, Farel memperlakukannya seperti orang asing yang mengganggu. Tatapannya selalu menghakimi, dan kehadirannya membuat rumah terasa sempit.
Ezran mengira penderitaannya akan segera usai saat pengumuman universitas keluar. Ia mengambil jurusan yang berbeda, berniat menghabiskan hari-harinya di kampus tanpa perlu melihat wajah Farel.
Namun, takdir berkata lain. Tepat di hari pertama masuk kuliah, ayahnya mendadak mengeluarkan keputusan mutlak:
Ezran dan Farel harus tinggal di satu kamar asrama yang sama dengan alasan mempererat hubungan saudara.
"Kamar 304. Ini kunci untukmu", kata petugas asrama sewaktu Ezran mendebat keputusan itu seorang diri.
Ezran mendorong pintu kamar dengan napas memburu karena marah. Ia mendapati koper-koper Farel sudah tersusun rapi di dekat ranjang.
"Kau sengaja, kan?" sergah Ezran begitu Farel keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, memperlihatkan dada bidang yang dibasahi tetesan air.
Farel tidak langsung menjawab. Ia mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya, berjalan mendekat perlahan tanpa rasa bersalah. Bau sabun mandi bercampur aroma dingin khas miliknya langsung menyerbu indra penciuman Ezran, memaksa pemuda itu mundur selangkah hingga punggungnya membentur dinding dingin di belakangnya.
"Ayah yang memutuskan. Kenapa kau malah menyalahkanku?", suara Farel terdengar datar, tetapi matanya menyorotkan kilatan berbahaya.
"Jangan bohong! Kau pasti memanipulasi Ayahku agar kita disatukan di sini!", Ezran mendesis, mencoba menepis tangan Farel yang hendak menyentuh rahangnya.
Namun, gerakan Ezran terlalu lambat. Farel dengan mudah menangkap kedua tangan Ezran, mendorongnya ke atas hingga punggung pemuda itu semakin menempel ketat pada dinding.
"Kau pikir aku ingin satu kamar dengan pengacau sepertimu?", bisik Farel tepat di depan telinga Ezran, suaranya berubah berat dan menusuk. "Kau pikir aku lupa kejadian di pesta tiga tahun lalu? Gara-gara kau jatuh dari tangga dan menimpaku, pacarku memutuskan hubungan saat itu juga"
Jantung Ezran berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena ingatan itu mendadak ditarik kembali ke permukaan. Insiden memalukan di pesta ulang tahun salah satu teman sekolah mereka—saat ia terpeleset dan tidak sengaja memeluk tubuh Farel di hadapan banyak orang.
"Itu kecelakaan! Aku tidak sengaja!" elak Ezran, mencoba meronta.
"Kecelakaan atau bukan, akibatnya tetap sama. Namaku rusak di hadapannya", Farel semakin mendekatkan tubuhnya, membuat Ezran tidak bisa bernapas dengan benar. "Jadi, jangan harap kau bisa hidup tenang di kampus ini, Ezran. Kau merebut sesuatu dariku dulu, dan sekarang ... aku akan mengambil alih seluruh hidupmu dari sini"
Ezran mendelik, melotot tajam menatap mata Farel. "Kau sudah gila!"
"Ya. Dan kaulah alasannya", balas Farel tanpa ragu.
Sebelum Ezran sempat melayangkan protes atau makian lain, Farel menunduk dan membungkam bibirnya secara paksa.
Sentuhan itu bukan lagi teguran verbal, melainkan sebuah pernyataan perang yang langsung meruntuhkan pertahanan Ezran dalam hitungan detik.
"Pergi kau bangsat!" Ezran akhirnya lepas dari cengkeraman Farel, ia mendorong Farel sekuat tenaga da langsung melayangkan tinjunya.
Share this novel