Series
116
Sri yudha asri, guru bahasa indonesiaku sedang terlihat emosi saat sedang memandang karangan yang aku tulis, aku mengira dengan membuat sedikit thiller akan membuatnya terkesan dan.. dia memang terkesan tapi dalam hal lain.
"begini Ren, apa tugas yang kuberikan di kelas tadi?
"well, tugas karangan tentang pedoman hidup"
"lalu apa yang kau tulis ini? rencana pembunuhan? kau pembunuh berantai ya? dasar idiot!"
harusku akui itu seperti rencana pembunuhan, bagaimana tidak aku menulisnya saat aku melihat orang yang aku benci berada di kelas jika bertanya siapa? maka aku menjawab semuanya!
"jelas saja tidak bu"
"kalau begitu tulis lagi nanti"
dia mengatakannya dengan tatapan tajam ke arahku sambil merapikan rambutnya. dia lebih baik di panggil 'Ratu' dari pada 'guru'. karna terkesan S kepada orang lain.
"Ren, kau dengar ngak!"
"ya bu, aku akan membuat ulang nanti.
"jangan - jangan.. apa kau suka padaku? aku ini guru loh!" katanya sambil mundur kebelakang dengan tatapan memandang aku menjijikan.
"tentu saja tidak bu lagiankan ibu sudah tu----"
aku merasakan angin menghembus di sebelah pipi kiriku yang ternyata itu adalah sebuah pukulan tanpa aba - aba.
"maaf kau bilang apa tadi!"
matanya menyala! apa aku berhalusinasi jika aku salah jawab maka aku akan keluar dari ruangan ini dengan warna yang berbeda di wajahku.
"aku hanya terpesona, kalau ibu itu sangat bijaksana, dan berkharisma"
dia menurunkan tangannya yang berada di sebelah pipiku "begitu ya, aku kira kau mengatakan aku.. TUA!!!" untuk kalimat pertama cukup normal, tapi saat sampai kata TUA nadanya berubah seperti monster, dan matanyapun merah menyala.
"ngaklah haha"
saat itu aku menyadari, kata tu* sangat tabu di ucapakan saat berhadapan dengan Bu sri.
Share this novel