Rate

Prolog

Young Adult Series 39

Lagu “The music of the Night" dari Andrew Lloyd Webber mengalun lembut, menambah kesan damai di ruangan tersebut.

Embusan angin yang menggerakkan ranting dan dedaunan terdengar dari salah satu jendela yang terbuka lebar, mempersilahkan semilir angin masuk dengan bebas.

Pekarangan rumah bercat putih itu terlihat tenang, seolah tak ada penghuni di sana. Namun, nyatanya, seorang cowok tengah asyik menjelajahi alam mimpi di salah satu ruangan rumah tersebut.

Dia terlihat nyenyak tidur terlentang dengan satu lengan menutupi mata. Tak ada suara dengkuran dari cowok itu, yang ada hanyalah deruan napas teratur.

Cowok itu menghela nafas pelan ketika terbangun. Dia menegakkan punggung, mengacak rambutnya, lalu bangkit berdiri. Sambil mengusap tengkuk, dia membuka pintu dan segera keluar dari kamar.

Dengan malas, dia melangkah menuruni anak tangga menuju dapur. Membuka pintu kulkas, lalu mengambil sebotol air dingin dan langsung meneguknya.

Dia membiarkan cairan dingin tersebut mengalir masuk melewati kerongkongan, membuat jakunnya naik-turun dengan suara tegukan yang khas.

Ting tong...

Dia mendengkus pelan tatkala mendengar suara bel rumahnya menggema.

Siapa yang bertamu? Bukankah ini waktunya tidur siang? Cowok itu berjalan menuju pintu utama rumahnya. Siapapun itu, pasti cuman orang yang kurang kerjaan dan tak tahu waktu untuk berkunjung.

“Apa kabar, Bro?" Sapaan tersebut segera menyambutnya ketika pintu terbuka.

Walau belum dipersilahkan masuk, kedua orang yang berdiri di luar langsung menyelonong dengan santai, membuat cowok itu kembali mendengkus kesal dan segera menutup pintu.

Dia berjalan mendekat, menaikkan satu alis. Sambil memasukkan tangan ke saku celana pendek selututnya. dia menatap kedua tamu tak diundang yang kini sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Lo pada ngapain ke sini?" Kening cowok itu tampak berkerut, memandang datar kedua orang di hadapannya.

“Cuma mau infoin kalo Axel nantangin lo lagi. Gimana?" Salah seorang tamu, yang sedang memainkan ponselnya, bercelutuk.

Decihan terdengar dari cowok itu. Perlahan seringaian tercetak jelas di bibirnya. “Kapan?"

“Hari ini jam 4.00 sore. Dekat lapangan tenis outdoor"

Cowok lain, yang sedari tadi diam, angkat suara. “Cuma pancingan kecil, Ta. Nggak usah diladenin"

“Asta mana mau diem kalau udah di tantang gitu" sahut cowok yang memainkan ponselnya lagi.

Sekilas dia menatap sahabatnya itu, lalu terkekeh pelan. “Udah, terima aja, Ta. Lagian kapan lagi bisa lihat si pengecut Axel" tambahnya.

“Kok, gue kayak lagi di bisikin iblis sama malaikat, ya?" tanya Asta. Dia terkekeh seraya mulai meregangkan badannya yang terasa kaku.

Dia adalah Asta Luciano Arcano, sang pemilik rumah tersebut. Wajahnya dapat menarik hati kaum hawa. Namun, tak seorang pun dapat menebak jalan pikirannya. Termasuk kedua tamu tak diundang kali ini, yang selalu mengatakan bahwa mereka sahabatnya yakni Liel dan Willi.

“Lapangan tenis dekat minimarket tempat lo pada nongkrong itu?"

Liel mengangguk tak acuh setelah melirik Asta. "Jangan lupa, hari ini"

“Lo mau ke sana, Ta?" timpak Willi menanggapi, merasa heran dengan makhluk yang satu ini.

Asta mengangkat satu alisnya “Kayak yang Liel bilang, kapan lagi gue bisa ketemu dia"

“Besok sekolah, Ta. Lo mau dateng di hari pertama sekolah dengan muka bonyok?" Willi kembali bercelutuk dengan raut wajah tak suka.

“Nah, ide yang bagus. Kadar ketampanan gue makin nambah kalo gitu" Asta berjalan menuju sofa, lalu berbaring di sana. Dia menghela nafas sebelum kembali melirik sahabatnya.

“Ngapain lo pada ke sini?" hardik Asta kembali ketika teringat pertanyaan awal yang di lontarkannya saat melihat dia orang itu datang.

“Rumah lo, tuh, enak, ta. Sepi, banyak makanan, dan semua yang dibutuhkan ada di sini. Emang rumahable, dah" Liel menyimpan ponselnya lalu menyengir.

Asta menipiskan bibir “Rumah gue tertutup rapat buat orang nista kayak kalian berdua. Enak banget, ya, lo pada datang tak di undang, pulang nggak di antar"

“Dikira jelangkung" sambung Willi sambil mencamil makanan yang sempat dia ambil di kulkas.

“Gue bawa motor, buat apa di antar segala" Liel langsung mengaduh kesakitan ketika sebuah bantal menabrak wajahnya.

“Libur kali ini berapa bulan, sih? Lama banget perasaan" tanya Asta, yang di sambut decakan kedua sahabatnya.

“Ya, kali, libur sekolah sampe bulanan" gerutu Liel seraya mengusap wajahnya.

“Baru dua minggu enam hari. Dan, sialnya besok masuk sekolah. Ck, ngomong ke mama lo panjangin dikit, kek, liburannya. Cepet amat masuknya" cerca Willi, yang masih sibuk memasukkan camilan ke mulut.

“Bagus. suntuk gue di rumah mulu"

“Di rumah mulu pala lo kinclong" seru Liel, lalu merampas camilan yang di makan Willi.

“Itu punya gue, Nyet"

“Selo, dong"

“Lo juga selo, Sat"

“Nama gue bukan Satria. Jangan panggil gue 'Sat', dong. panggil sayang, baby, atau honey boleh kok"

Willi bergidik ngeri sambil menatap Liel jijik.

“Aku selalu untukmu, Babehhh...." Liel mengedipkan satu matanya sambil tersenyum jenaka.

Asta, yang sedari tadi diam, memilih bangkit dari sofa, lalu berjalan memiliki tangga menuju lantai dua.

“Jangan mesum di rumah gue"

“GUE NGGAK MESUM, YA!" teriak Willi menggema di sambung gelak tawa Liel.


***

Sambil tersenyum sumringah, Nary melepas celemek yang dikenakannya. Lalu, gadis itu membawa kue yang baru matang dari oven menuju meja makan.

Dengan lihai, tangannya yang memegang pisau memotong kue buatannya itu.

Kerutan halus muncul di keningnya ketika potongan kue itu masuk ke mulut. Lidah Nary terus mengecap rasanya. “Kok, rasanya gini, sih..."

Gadis itu berfikir keras. Mengingat apa saja bahan yang belum dia masukkan, karena rasa kue buatannya kali ini kurang sempurna.

“Kayaknya kelebihan tepung" gumamnya sambil menowel-nowel kue di hadapannya.

“Kamu buat lagi?"

Nary berjengit kaget, lalu mengelus dada. Dia berbalik dan mendapati sangat mama kini berdiri di sampingnya dengan ali terangkat.

“Mama kalo dateng jangan kayak hantu ngapa, Nggak ada suaranya sama sekali" gerutu Nary, lalu kembali melihat kue buatannya.

Belum merasa putus asa, Nary berjalan mendekati tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas.

“Ma, Nary mau beli bahan kue. Natu keluar bentar, ya"

Acungan jempol dilihatnya dari Cita, mamanya, sebelum dia berbalik dan menaiki tangga.

Setelah mengambil dompet dan kunci motor di kamarnya di lantai atas, Nary bergegas keluar dari rumah. Dia memakai helm, lalu melajukan motor menuju minimarket depan kompleks. Sebenarnya bisa saja Nary berjalan kaki. Namun, karena malas tak ingin menyita banyak waktu, dia memilih menggunakan motor.

Nary bersenandung pelan. Kadang dia mengklakson motornya sambil tersenyum katika berpapasan dengan tetangga yang di kenal.

Sesampainya di tempat tujuan, Nary memarkirkan motor, lalu masuk. Gadis itu menyapa kasir dan mulai mencari bahan yang di butuhkan untuk kue yang akan di buat.

Setelah selesai, Nary membawa barang-barangnya dan meletakkannya di meja kasir. Senyuman ramah langsung di layangkan wanita kasir berusia sekitar 25 tahun yang sudah mengenalnya.

“Masih giat bikin kue, Ry?" ujar kasir itu sambil menotalkan belanjaan Nary.

Sudut bibir Nary terangkat, lalu dengan semangat mengangguk “Iya nih mbak, hehehe..."

Setelah memasukkan barang belanjaan Nary ke kantong, kasir itu mengulas senyuman “Semangat, ya, buatnya"

Nary terkekeh pelan “Siap mbak! Nanti kalo udah jadi, aku bawain deh"

Setelah membayar dan mengambil barang belanjaan, Nary bergegas keluar. Tetapi, matanya lantas tak sengaja menatap sekelompok orang sedang mengadang seolah laki-laki tak jauh dari tempatnya—lebih tepatnya di dekat lapangan tenis terbuka.

Nary bergidik ngeri melihat wajah-wajah menyeramkan itu. Namun, tak bisa dimungkiri jika cowo yang sedang di adang itu mempunyai pesona yang sulit di lupakan.

Setelah beberapa menit memperhatikan, Nary mengedikkan bahu tak acuh, lalu segera menaiki motornya, bergegas pergi dari sana.

To be continued...

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience