Prolog

Perpustakaan sekolah bukan tempat fovorit kebanyakan siswa pada jam istirahat pertama. Namun, bagi Fara yang kutu buku atau Nikki yang tergabung dalam klub mading, yang harus selalu mencari topik ataupun bahan tulisan, perpustakaan menjadi tempat nongkrong mereka.

Bangunan perpustakaan ini terletak di belakang, berdiri terpisah dari bangunan utama dan bangunan sayap. Langit-langit tinggi khas bangunan bergaya kolonial, membuat ruang perpustakaan terasa sejuk, meski sedikit remang. Deretan rak buku terbuat dari kayu berjajar rapi. Bau kertas usang bercampur debu, selalu tercium ketika mereka mendekat ke rak-rak itu untuk mencari buku.

Mata Nikki tidak bisa fokus dengan laptop dan buku catatannya. Tangannya menyibakkan rambut ikal sebahu yang jatuh ke depan wajahnya. Matanya terus melirik gelang keperakan dengan aksen batu swarovski berwarna putih, yang melingkar di pergelangan tangan sahabatnya, Fara.

"Baru ya?" tanya Nikki, tanpa menyebut secara spesifik benda apa yang ditanyakan.

Gadis manis dengan rambut bob yang duduk di seberang, mendongak dari buku teks yang sedang dibacanya. Kemudian, mengangkat tangan kirinya dengan senang. "Ini? Iya, hadiah dari Neil. Kemarin, kan, enam bulanan."

"Hmmm." Nikki menggumam, mengembalikan artikel yang sejak tadi hanya dibacanya, walau sebenarnya gagal total untuk konsentrasi.

Enam bulanan. Neil. Gelang cantik.

Nikki melirik pergelangan tangannya yang minim perhiasan. Jam tangan saja, dia tidak pernah pakai.

Fara punya semuanya.

Krincing...

Samar-samar terdengar bunyi gemerincing. Nikki mengangkat alisnya dan membatin. Seperti bunyi gelang. Sekolah ini memang mengizinkan siswinya mengenakan aksesoris, tapi kalau sampai berbunyi seperti itu, sih, sudah pasti pakainya kebanyakan.

"Kenapa, Ki?" Fara bertanya saat Nikki hanya terdiam.

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan mencoba tersenyum. "Nggak. Gelangnya bagus. Enak, ya, punya pacar."

Nikki setengah berharap Fara akan mendengar nada menyindir dalam kalimatnya. Tetapi, senyuman di wajah gadis itu tetap melekat. Kalaupun Fara menyadarinya, dia tidak akan bilang apa-apa. Dia memang selalu seperti itu.

Srak.

"Apa, tuh?" Nikki menoleh ke arah suara. Di rak buku yang dekat dengan tempat duduk mereka, sebuah buku terjatuh ke lantai. Namun, tidak ada orang di sekitar situ.

"Pasti ada orang lewat, terus nyenggol, deh," gumam Fara sambil beranjak dari kursinya.

Dari sudut matanya, Nikki bisa melihat Fara yang bergerak menuju rak kayu di sisi kanan meja mereka. Kebetulan, meja favorit mereka ini memang terletak di bagian perpustakaan yang agak dalam. Tidak berisik karena agak jarang dilewati orang.

Dilihatnya, Fara membungkuk untuk mengambil buku itu, kemudian terdiam. Lalu, sahabatnya itu malah berjongkok, seperti memperhatikan sesuatu.

"Kenapa, Far?" panggil Nikki pelan, tidak ingin disemprot oleh penjaga perpus yang super galak ketika ada siswa bicara dengan volume di atas level yang bisa ditolerirnya.

Untuk beberapa detik pertama, Fara tidak menjawab. Seperti memandang lurus pada buku yang terjatuh itu.

Nikki melihat temannya itu membolak-balikan buku tersebut, membuka-buka halamannya, lalu, "Ki, Ki, Ki, sini, deh."

Nada antusias bercampur dengan rasa penasaran itu, langka terdengar dari Fara. Segera, Nikki melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam lorong di antara rak-rak buku dari kayu, mendekati Fara yang masih berjongkok.

Nikki ikut berjongkok, melongokkan kepalanya dari balik punggung Fara, dan mendapati halaman kosong yang sedang diamati oleh sahabatnya itu.

Ah, bukan halaman kosong. Tulisan tangan dengan huruf sambung menempati sebagian halaman usang tersebut. Dilihat dari kemiringan baris per barisnya, catatan kecil itu pasti ditulis dengan terburu-buru. Di atas deretan kata tersebut, tertulis : Lantai 4.

Otak Nikki langsung memutar ingatan mengenai salah satu urban legend yang cukup dikenal di sekolahnya. Tentang adanya lantai keempat di bangunan berlantai tiga ini. Insting penulis Nikki langsung tertarik. Seperti ada dorongan kuat untuk melihat catatan tangan itu lebih jauh.

Nikki berjongkok di samping Fara. Matanya bergerak mengikuti tulisan tangan di sudut halaman kosong itu. Punggung Nikki serasa ditiup angin dingin, membuat bulu-bulu halus di sana berdiri. Nikki menengok ke belakang, lalu mendapati lorong kosong dan hening. Ketika mengalihkan pandangannya ke atas, Nikki mendapati AC yang berada persis di dinding depan mereka.

Oh, cuma AC, batin Nikki.

Meski begitu, dia tetap tidak menemukan jawaban, kenapa tiba-tiba merasa sedang diawasi pandangan yang tajam dan menusuk tengkuknya.